Kamis, 01 September 2011

6 Tahun Kemudian


oleh Yun Sirno pada 25 Agustus 2011 jam 16:42

Kamis, 25 Agustus yang lalu saya bertemu sahabat lama saya, Eko Novianto (30 tahun) seorang pionir tangguh yang saya kenal. Kami sudah berteman sejak tahun 1999 alias 11 tahun ketika sama-sama duduk di kampus Untan  semester 3, walau berada di kampus yang berbeda. Ia ada di kampus pertanian, saya di ekonomi.
Setelah 4 tahun berjalan persahabatan kami, kami sama-sama merintis sebuah lembaga.  Kenapa tidak sama-sama? Ya, kami memiliki visi yang sama tapi misi yang berbeda. Ia memilih jalur social hospitality atau charity, sedang saya memilih jalur pendidikan. Ia mendirikan lembaga penggalangan dana social yang dinamai TPU (Tabungan Peduli Umat). Ia memilih pekerjaan yang seharusnya dilakukan Negara. Tapi itulah perjuangan yang ia pilih. Saya mencoba menawarkan perubahan dalam dunia pendidikan lewat Sang Bintang School.
Saya masih ingat benar bahwa kami merintis bersama-sama hal yang berbeda.
Unik kan? Kebersamaan tidak perlu sama, bukan? Di tahun pertama rintisan kami, kami sama-sama “menumpang” sebuah bangunan gratis yang sederhana. Kami selalu berdiskusi hampir setiap hari. Kami saling mengkritik. Dan kami saling mendorong. Hanya beberapa bulan kami menempati bangunan yang sederhana di Jl. Alianyang itu. Kami kemudian dapat rezeki dengan bangunan yang lebih ciamik dan lebih besar. Kami berbagi tempat lagi dalam bangunan yang sama.
Hampir dua tahun kami bersama, kemudian makin luasnya manajemen masing-masing lembaga membuat kami tidak bisa lagi seenaknya berdiskusi, dan mengutak-atik lembaga kami. Karena kami harus menghormati manajemen yang kami buat sendiri. Manajemen yang kami rintis sudah memiliki wewenang yang tak boleh kami utak-atik sembarangan. Akhirnya kami berdua berpisah bangunan untuk tahun-tahun yang lebih profesional.

Bertemu Lagi
Setelah sekitar 4 tahun “bercerai” kini kami bertemu lagi. Saya mengundang sahabat saya hadir di charity program SBS karena kutahu komitmennya yang tinggi pada hospitality. Maka kami pun saling bercerita tentang suka duka kami dan tentu saja pencapaian kami.
Alhamdulillah menuju tahun ke 6 ini, SBS tak hanya meningkatkan kualitasnya, namun juga kuantitasnya. SBS sudah merambah ke 12 kota di penjuru nusantara. SBS sudah memiliki 65 instruktur dan 45 tim manajemen alias 100 kru secara nasional. Pencapaian yang membuat hati bahagia. Bagaimana dengan sahabatku, Eko?

Tak Pernah Menyerah
Ternyata pencapaian yang sama juga diraih oleh sahabat saya itu. Lembaganya telah mengepakkan sayap sampai ke 7 kota di penjuru Kalimantan Barat. Saya sebenarnya kaget juga. Anda bisa bayangkan bahwa ia memulai di awal tanpa jaringan seorang tokoh besar manapun.Tahukah Anda  bahwa Ia memulai  dengan menyebarkan kaleng-kaleng sumbangan yang ia titipkan ke toko- toko atau rumah-rumah kenalannya. Ia selalu promosi ketika ketemu siapapun. Saya masih ingat malam-malam ketika saya sedang mengajar, ia membuat sendiri kaleng-kaleng tabungan infaknya. Saya salut banget dengan sahabat saya ini meski selalu kesulitan dalam manajemen. Ia tak pernah menyerah. Ia selalu konsisten.
Saya tahu benar ia selalu memulai dari keterbatasan. Tapi daya juangnya tak terbatas. Ia tidak kutu buku seperti saya. Bacaannya tidak hebat-hebat amat. Tapi ia hampir selalu mempraktekkan ilmu yang ia dapat. Jaringannya juga tak sehebat yang saya lakukan. Tapi jaringan yang ia miliki betul-betul ia berdayakan. Ia sangat efisien selain konsitensi yang tinggi.
Kini di usianya yang baru 6 tahun, lembaga yang ia rintis telah memiliki sekitar 5.000 donatur. Saya masih ingat bahwa ia hanya punya 25 jaringan di awal berdirinya. Itu pun semuanya adalah teman-teman dekatnya. Namun dalam laporan tahun terakhir, lembaganya telah mampu membukukan omset sebesar 1, 3 milyar. Padahal BAZ Daerah Kalbar di tahun yang sama "hanya" membukukan 1,5 milyar. Sahabatku Eko telah menunjukkan kekuatan sebuah konsistensi@

Tidak ada komentar: