Minggu, 17 Juli 2011

Kartini, Dedication to Education

A Tribute to Educational Figure
Kartini was born into an aristocratic Javanese family in a time when Java was still part of the Dutch
colony, the Dutch East Indies. Kartini's father, Raden Mas Sosroningrat, became Regency Chief of Jepara, and her mother was Raden Mas' first wife, but not the most important one. At this time, polygamy was a common practice among the nobility.She also wrote the Letters of a Javanese Princess.

Kartini loved her father deeply although it is clear that her deep affection for him became yet another obstacle to the realisation of her ambitions. He was sufficiently progressive to allow his daughters schooling until the age of 12 but at that point the door to further schooling was firmly closed. In his letters, her father also expressed his affection for Kartini. Eventually, he gave permission for Kartini to study to become a teacher in Batavia (now Jakarta), although previously he had prevented her from continuing her studies in the Netherlands or entering medical school in Batavia.

Kartini's desire to continue her studies in Europe was also expressed in her letters. Several of her pen friends worked on her behalf to support Kartini in this endeavour. And when finally Kartini's ambition was thwarted, many of her friends expressed their disappointment. In the end her plans to study in the Netherlands were transmuted into plans to journey to Batavia on the advice of Mrs. Abendanon that this would be best for Kartini and her younger sister, Rukmini.

Nevertheless, in 1903 at the age of 24, her plans to study to become a teacher in Batavia came to nothing. In a letter to Mrs. Abendanon, Kartini wrote that the plan had been abandoned because she was going to be married... "In short, I no longer desire to take advantage of this opportunity, because I am to be married..". This was despite the fact that for its part, the Dutch Education Department had finally given permission for Kartini and Rukmini to study in Batavia.

As the wedding approached, Kartini's attitude towards Javanese traditional customs began to change. She became more tolerant. She began to feel that her marriage would bring good fortune for her ambition to develop a school for native women. In her letters, Kartini mentioned that not only did her esteemed husband support her desire to develop the woodcarving industry in Jepara and the school for native women, but she also mentioned that she was going to write a book. Sadly, this ambition was unrealised as a result of her premature death in 1904 at the age of 25.

QUOTES ON MOTHER
A mother is a person who seeing there are only four pieces of pie for five people, promptly announces she never did care for pie.  ~Tenneva Jordan

Being a full-time mother is one of the highest salaried jobs in my field, since the payment is pure love.  ~Mildred B. Vermont

The moment a child is born, the mother is also born.  She never existed before.  The woman existed, but the mother, never.  A mother is something absolutely new.  ~Rajneesh

Minggu, 03 Juli 2011

TESTIMONI BUKUKEAJAIBAN BELAJAR



TESTIMONI BUKU
KEAJAIBAN BELAJAR



"Selamat pagi! Mas,
terima kasih… buku Keajaiban Belajar telah membuat hati saya berdegub kencang saat ini. Saya sadar, saya hidup dalam ancaman fasilitas orangtua. Saya sangat terpuruk saat ini setelah membaca buku Keajaiban Belajar.Saya merasa ada di lingkaran setan. Saya merasa kacau dan bingung saat ini. Entah apa yang ada dalam pikiran saya. Saya hanya dapat berkata dalam hati. "di umur saya yang telah menginjak dewasa, masihkah Dia memberiku umur, sebagai kesempatan untukku belajar demi keluarga, guru, rekan dan bangsaku?

Senin, 18 April 2011

Seminar Keajaiban Belajar di Seluruh Indonesia


“Biarkan negeri ini melupakan masa kelabunya.
Biarkan negeri ini melupakan segala kelemahannya.
Biarkan negeri ini melupakan segala apa yang tidak
bisa mereka lakukan.
Izinkan kami membantu negeri ini dengan selembar petisi.
Izinkan kami membantu negeri ini dengan seuntai kata.
Izinkan kami membangunkan negerin ini dengan satu
harapan.
Inilah petisi kami, Keajaiban Belajar…”
Diawali dengan Soft Launching unik 28 Desember 2009, buku Keajaiaban Belajar sudah bisa diakses publik. Saat itu launching yang dilakukan adalah dengan mengundang sahabat-sahabat SBS di Pontianak untuk membaca dan ini yang unik… seklaigus mengeditnya. Mengedit? Ya karena buku ini saat itu dilaunching dengan edisi fotokopi yang dicetak 20 buah. Hari itu juga menjadi makin istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun saya sebagai penulis, Yunsirno dan pemaisuri Dian Yustikarini yang sama-sama pada tanggal 28 Desember itu. Puluhan teman saat itu datang dengan ide, kritik, dan dukungan morilnya. Saya makin berketetapan hati untuk segera melaunching edisi masalnya. Setelah perbaikan sana sini hasil editan malam itu, maka buku pun segera di cetak masal di Jakarta, di Daun Production.

Sabtu, 05 Maret 2011

Keajaiban Belajar Hadir di Jakarta Islamic Book Fair 10th


Hadirilah Jakarta Islamic Book Fair yang ke 10 di Istora Gelora bung Karno Senayan Jakarta. karena anda berkesempatan mendapatkan discount hingga 40 % untuk buku Keajaiban Belajar dari harga 50 ribu menjadi hanya 30 ribu rupiah saja...
segera kunjungi dan dapatkan buku Keajaiban Belajar hanya di stand IKADI lt 2 Istora area marwa dari tanggal 4-13 Maret 2011.

Minggu, 27 Februari 2011

TROBOSAN JENIUS BAHASA INGGRIS


6 MINGGU BISA BAHASA INGGRIS HADIR di KARAWANG


Setelah sukses menjalankan 44 angkatan Nasional Kampoenk Jenius English 6 Minggu Bisa, kini kami membuka kesempatan bagi anda untuk merasakan pengalam belajar yang berbeda bersama kami. Dan tentu saja kesempatan untuk belajar Bahasa Inggris dalam waktu singkat, hanya 6 Minggu Bisa!


Ini juga adalah kesempatan emas bagi teman-teman yang menghadapi liburan smester. Mumpung ada waktu luang, belajar Bahasa Inggris yuk!